Cara Antisipasi Hama Penyakit Jagung Saat Musim Kemarau

Cara Antisipasi Hama Penyakit Jagung Saat Musim Kemarau – Menanam jagung tidak membutuhkan banyak air dan bisa ditanam pada musim kemarau. Oleh sebab itu ketika tanaman lain seperti padi memerlukan pengairan teknis, jagung justru dapat menjadi tanaman pengganti padi di sawah saat musim kemarau.

Penyakit Penggerek Batang Jagung
Penyakit Penggerek Batang Jagung

Namun demikian memasuki peralihan musim penghujan ke musim kemarau, perlu kiranya mengantisipasi hama penyakit yang berpotensi menggagalkan panen. Saat perubahan musim itulah hama dan penyakit juga ikut berubah. Jika biasanya pada musim penghujan lebih dominan penyakit, sebaliknya pada saat musim kemarau justru perkembangan hama yang perlu diperhatikan. Namun demikian keduanya baik hama dan penyakit juga sama-sama patut diwaspadai.

Perkembangan hama seperti tikus, penggerek batang, penggerek tongkol, belalang, walang sangit, akan semakin cepat berkembang saat musim kemarau tiba. Pada saat musim hujan, persediaan makanan bagi tikus bisa dibilang berlimpah. Namun, pada saat kemarau dan makanan terbatas maka tikus akan berlomba-lomba mencari alternatif makanan yang paling mungkin didapat. Jika pada saat musim hujan banyak tananam padi atau sayur-sayuran yang dapat dimakan, maka saat kemarau hanya tersedia jagung, tentu yang akan menjadi incarannya adalah tanaman jagung. Jika tikus sudah menyerang, tidak perlu menunggu panen, saat masih fase bibit pun bisa ludes.

Begitu juga pada serangan hama penggerek batang dan tongkol dimana ngengat penggerek batang akan aktif bertelur dan menetaskan larvanya yang merusak pada musim kemarau, dan pada musim hujan larva berubah menjadi imago. Serangan penggerek batang dimulai saat akan memasuki umur keluar bunga, dengan menyerang batang pangkal bunga. Saat batang bunga patah sebelum terjad penyerbukan, maka proses penyerbukan tidak akan terjadi dengan baik bahkan gagal terbentuk tongkol.

Untuk penyakit yang perlu diantisipasi adalah penyakit hawar daun dan bulai, meskipun serangannya relatif lebih rendah dibanding saat musim penghujan. Namun penyakit ini bisa sewaktu-waktu muncul pada kondisi yang sesuai. Untuk itu salah satu antisipasinya adalah gunakan varietas jagung yang tahan penyakti bulai atau hawar daun, misalnya jagung hibrida Jagung Pertiwi 3 atau Pertiwi 2.

Source : Benih Pertiwi

Advertisements

Optimalisasi Musim Kemarau Dengan Budidaya Jagung

Optimalisasi Musim Kemarau Dengan Budidaya JagungDatangnya musim kemarau di beberapa tempat, khususnya di lahan tadah hujan, acapkali memberikan tantangan tersendiri bagi para petani terkait komoditas yang hendak mereka tanam. Komoditas yang memiliki adaptasi bagus di musim kemarau, seperti jagung, menjadi salah satu pilihan yang rasional bagi petani. Hanya saja bercocok tanam jagung dalam kondisi lingkungan yang kering juga tetap memerlukan perhatian khusus agar hasilnya optimal.

Optimalisasi Musim Kemarau Dengan Budidaya Jagung
Optimalisasi Musim Kemarau Dengan Budidaya Jagung

Jagung pada dasarnya merupakan golongan tanaman yang sangat cocok ditanam di musim kemarau. Pasalnya, tanaman yang memiliki nama latin Zea mays ini memerlukan sinar matahari penuh selama masa hidupnya. Selain itu, tingkat penggunaan airnya juga tergolong sedang. Dari catatan Food and Agriculture Organization (FAO), kebutuhan air tanaman jagung berkisar antara 400 hingga 500 mm.

Meski begitu, komoditas pangan satu ini juga sensitif terhadap kondisi kekurangan maupun kelebihan air. Biasanya, jika mengalami kelebihan air, tanaman jagung akan menunjukkan respon berupa warna daun yang menguning dengan pertumbuhan yang terhambat dan hasil yang menurun. Sementara jika mengalami kekurangan air, tanaman akan menggulung daunnya untuk mengurangi laju penguapan.

“Selama pertumbuhannya, tanaman jagung memiliki juga fase-fase kritis terhadap kondisi kekurangan air. Fase-fase itu antara lain: fase perkecambahan, pembungaan, dan pengisian biji,” terang Yustiana, staf Riset dan Pengembangan Tanaman Jagung PT BISI International, Tbk..

Oleh karena itu, fase-fase kritis tersebut harus tetap menjadi perhatian para petani. Pasalnya, hal itu akan sangat berpengaruh terhadap produktivitas tanaman. Misalnya, jika pada saat masa perkecambahan tidak mendapat pasokan air atau tingkat kelembaban tanahnya kurang, maka pertumbuhan benih yang telah ditanam akan terhambat, bahkan bisa tidak tumbuh sama sekali.

Kemudian, jika pada masa pembungaan terjadi kekurangan air, maka perkembangan organ bunga jagung akan terganggu. Dampaknya adalah jumlah polen pada bunga jantan menjadi lebih sedikit dan masa viabilitas polennya menjadi lebih pendek. Sedangkan pada bunga betina akan mengakibatkan insersi (daya lekat) rambut tongkol menjadi kurang maksimal, masa reseptif silking (penerimaan polen oleh bunga betina) berkurang, dan rambut menjadi lebih cepat kering.

“Hal ini secara umum akan berdampak pada pembentukan biji jagung yang tidak optimal,” ujar Yustiana.

Sementara jika kekurangan air terjadi pada masa pengisian biji, maka akan mengakibatkan penurunan bobot biji. Kualitas bijinya pun menjadi kurang baik lantaran pengisiannya tidak sempurna.

Faktor pembatas

Musim kemarau memang musim yang dinilai cocok untuk budidaya jagung. Pasalnya, ada beberapa kelebihan yang bisa diperoleh petani jagung saat bercocok tanam di musim kemarau. Menurut Yustiana, kelebihan bercocok tanam jagung di musim kemarau itu antara lain: tanaman dapat tumbuh optimal karena mendapat penyinaran penuh selama masa pertumbuhannya, kegiatan penyerbukan bunga dan pembentukan biji dapat lebih maksimal selama kebutuhan airnya tercukupi, dan serangan penyakit, seperti bulai dan busuk tongkol, relatif sangat rendah.

Tanaman Jagung

Meski demikian, dalam bercocok tanam jagung di musim kemarau terdapat faktor pembatas yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Faktor pembatas itu antara lain: ketersediaan air, kelembaban yang rendah dan suhu yang tinggi saat pembungaan, kelembaban tanah yang rendah, dan serangan hama yang cenderung lebih tinggi dibanding musim hujan.

Oleh karena itu, pola dan teknis budidaya, mulai dari pemilihan varietas tanaman, pengolahan lahan, pengairan, hingga pengendalian hama dan penyakit, selama musim kemarau sebaiknya juga mengacu pada faktor pembatas tersebut. Sehingga performa dan produktivitas tanaman bisa terus terjaga hingga masa panen tiba.

Pola yang tepat jamin hasil optimal

Sebagai langkah awal, memilih varietas tanaman jagung yang tepat akan sangat menentukan keberhasilan bercocok tanam di saat kemarau. Daya adaptasi yang baik sekaligus keunggulan genetis lain, seperti: produktivitas yang tinggi dan ketahanan terhadap hama penyakit, menjadi beberapa kriteria yang harus dipenuhi saat memilih varietas yang tepat.

“Tentunya banyak pilihan varietas di pasaran. Ada yang adaptif di musim kemarau namun rentan terkena penyakit bulai. Ada pula yang tahan penyakit namun kurang adaptif di musim kemarau. Petani tentunya harus bisa memilih varietas jagung yang adaptif di musim kemarau sekaligus tahan terhadap serangan hama penyakit,” ujar Doddy Wiratmoko, Market Development Corn Seed Manager PT BISI.

Dari beberapa varietas jagung yang diproduksi PT BISI, varietas hibrida BISI 18 disebut Doddy sebagai salah satu varietas yang sangat layak untuk ditanam para petani. Karena, varietas ini cukup adaptif di musim kering sekaligus memiliki produktivitas yang tinggi hingga 12 ton/ha dan tahan terhadap serangan penyakit bulai (Peronosclerospora maydis) yang sering menjadi momok bagi para petani jagung.

Kemudian untuk pengolahan lahan, kondisi tanah dan kecukupan air patut menjadi pertimbangannya. Menurut Yustiana, pada kondisi air yang sangat terbatas, pengolahan dan persiapan lahannya diupayakan agar sifat konservasi tanah terhadap air tidak berkurang.

“Pada tanah ringan dan sedang sebaiknya dilakukan olah tanah minimum. Dimana barisan tanam diolah dan dibuat alur-alur untuk mempermudah kegiatan pengairan,” terang Yustiana.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan air, Yustiana menganjurkan untuk melihat tanda-tanda yang ditunjukkan oleh tanaman jagung itu sendiri. “Saat kekurangan air, tanaman jagung memiliki mekanisme menggulung daun atau leaf rolling untuk mengurangi laju penguapan. Selain itu, lapisan olah tanah juga pasti tampak kering. Saat inilah perlu dilakukan pengairan,” terangnya.

Patokan pemberian kebutuhan air selanjutnya menurut Yustiana bisa mengacu pada fase-fase kritis tanaman, yaitu: fase perkecambahan, pembungaan, dan pengisian biji. Yang penting, pada fase-fase tersebut kebutuhan air tanaman jagung harus terpenuhi dengan baik agar pertumbuhan dan hasil akhir tanaman bisa tetap optimal.

Pengairan juga diperlukan sesaat setelah dilakukan pemupukan susulan. Menurut Yustiana, hal ini dimaksudkan untuk melarutkan pupuk yang diberikan, sehingga nutrisinya bisa lebih  mudah diserap tanaman.

“Di beberapa daerah, seperti di Tuban dan Jember, para petani banyak yang melarutkan pupuknya terlebih dahulu dengan air, kemudian baru disiramkan pada pangkal tanaman. Namun ini masih perlu dikaji lagi tentang keefektifan dan efisiensinya,” terang Yustiana.

Yang juga perlu diantisipasi saat bercocok tanam jagung di musim kemarau adalah keberadaan gulma yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Karena, pertumbuhan gulma di musim kemarau relatif lebih cepat.

“Sebaiknya menggunakan herbisida kontak saat tanaman sudah berumur 30 hari setelah tanam atau saat tinggi tanaman mencapai sekitar 50 cm. Penyemprotannya pun juga harus hati-hati, jangan sampai terlalu tinggi agar tidak mengenai pucuk tanaman yang menjadi titik tumbuhnya,” jelas Yustiana.

Sementara untuk serangan hama dan penyakit, intensitas serangan hama biasanya cenderung lebih tinggi dibandingkan serangan penyakit. Hanya saja, kata Yustiana, keberadaan penyakit bulai yang notabene merupakan penyakit “khas” pada tanaman jagung tetap harus diwaspadai. Penggunaan varietas yang tahan seperti jagung hibrida BISI 18 akan sangat membantu. “Kalau hamanya yang umum menyerang di musim kemarau adalah ulat, belalang, dan tikus,” lanjut Yustiana.

Source : Tanindo Agrobusines

Melirik Kehebatan Pertanian Organik Di Bali

melirik hebatnya pertanian di bali

Melirik Kehebatan Pertanian Organik Di Bali – Berbicara tentang sistem pertanian organik yang ramah lingkungan tidak lepas dari salah satu daerah di Indonesia yang memiliki keasrian dan pemandangan alam yang luar biasa, yaitu di daerah Bali. Selain terkenal dengan daerah yang memiliki keadaan atau pemandangan alam yang bagus daerah Bali juga memiliki tradisi pertanian organik yang terbaik di Indonesia, buktinya daerah ini sempat mendapatkan penghargaan dari pemerintah untuk menjadi daerah organik nomor satu  di Indonesia. Di daerah Bali juga terdapat banyak lahan pertanian yang di kembangkan langsung di bawah pengawasan pemerintah daerah sana. Pemerintah bahkan tidak segan segan menggandeng perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang pertanian organik baik itu dari dalam negeri maupun dari luar negeri seperti pertanian organik di australia.

Daerah Bali juga memiliki konsumen bahan organik yang sangat banyak mengingat cukup banyak turis asing maupun dalam negeri yang datang ke Bali tiap tahunnya. Mulai dari sayuran organik, buah organik hingga ke daging organik yang sebagian besar berasal dari luar pulau bali sendiri, membaca situasi yang demikian lah yang membuat pemerintah daerah sana bergerak cepat dengan membangun sistem pertanian organik yang ramah lingkungan.

Pertanian Organi Bali

Pemerintahan pulau Bali juga sedang menggalakkan Bali clean and green yang artinya Bali bersih dari sampah dan hijau serta asri untuk di tinggali. Dari hal itulah mereka mulai mengembangkan percontohan pertanian organik di kampung kampung dan kecamatan, agar para petani di daerah sana semua beralih ke sistem pertanian organik yang ramah lingkungan itu. Terutama para petani padi yang banyak di daerah Bali, mereka juga mengembangkan sistem padi jajar legowo atau SRI dengan sistem pertanian organik. Sehingga hasilnya jauh lebih banyak daripada menanam padi dengan sistem anorganik. Tak heran lah jika di pulau dewata menargetkan 2020 Bali bebas pestisida kimia, dan bahkan pemerintah sana juga menargetkan mampu menghidupi masyarakat di sana dengan tidak mendatangkan beras dari daerah lain.
Pagi Organi Siap Panen
Pagi Organi Siap Panen

Demikianlah kita sedikit belajar dari pulau bali yang sangat hebat dalam mengembangkan sistem pertanian organik di daerahnya, bagaimana dengan Pertanian Lamongan? atau daerah anda semuanya? baca juga artikel kami berikutnya, silahkan dibagikan jika dirasa bermanfaat untuk semuanya. Salam hangat selalu dari kami.

Pemberian Pupuk Daun dan Zat Pengatur Tumbuh Pada Tanaman Cabai

(Gapoktan Sekarsari / Pemberian Pupuk Daun dan Zat Pengatur Tumbuh Pada Tanaman Cabai) – Dalam perawatan tanaman cabai dapat dilakukan juga pemberian pupuk daun dan zat pengatur tumbuh (ZPT). Pemberian masing-masing bahan tersebut bertujuan agar tanaman cabai dapat tumbuh dengan baik dan tidak mudah terserang oleh hama penyakit.

tanaman-cabai

  1. Pupuk daun

Sebagaimana pupuk yang diberikan lewat tanah, pupuk yang diberikan lewat daun juga dapat berupa pupuk organik dan anorganik. Cara pemberiannya dilakukan melalui penyemprotan ke daun sehingga disebut pupuk daun. Tujuan pemberian pupuk daun adalah:

  • Untuk memenuhi kekurangan zat–zat tertentu yang tidak tersedia pada pupuk akar,
  • Menjaga agar tanaman tidak jenuh dengan pemberian pupuk akar yang berlebihan, dan
  • Untuk menjaga agar struktur tanah tidak rusak akibat pemberian pupuk buatan.

Penggunaan pupuk daun harus hati-hati, baik dosis, frekuensi, maupun waktu pemberiannya. Biasanya aturan pakai terdapat pada label kemasan masing-masing pupuk daun. Oleh karena itu, bacalah aturan pakai sebelum menggunakan pupuk daun tersebut. Cara penyemprotannya juga harus diperhatikan. Secara garis besar cara penyemprotan tersebut adalah sebagai berikut:

Harga Cabai Merah saat ini
Cabai Merah Mempesona
  • Jarak penyemprotan harus diperhitungkan agar pendistribusian pupuk dapat diterima secara merata oleh daun tanaman. Jadi, seluruh daun tanaman harus basah terkena semprotan tersebut.
  • Lakukan penyemprotan pada pagi hari saat udara cerah dan sinar matahari tidak terlalu terik (sekitar pukul 09.00). Jika disemprotkan pada siang hari, akan banyak larutan air dan pupuk yang menguap ke udara.
  • Ketika tanaman mulai berbunga atau mulai mengeluarkan tunas baru, sebaiknya tanaman dihindarkan dari upaya penyemprotan. Pada saat ini, tanaman sangat peka terhadap benda asing. Tunas muda akan mati atau bunga akan berguguran terkena semprotan. Jadi, penyemprotan sebaiknya dilakukan pada saat tunas muda sudah menumbuhkan daun yang cukup tua atau bunga sudah menjadi bakal buah.
  • Sebaiknya jangan mencampurkan pupuk daun dengan bahan kimia lain, kecuali kalau ada penjelasan bahwa pupuk itu aman dicampur dengan bahan kimia lain.
  1. Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)

Sebagaimana halnya pupuk daun, zat pengatur tumbuh (ZPT) juga diberikan dengan cara penyemprotan. Namun, ada pula yang menggunakan ZPT saat pembenihan, yaitu dengan merendam benih ke dalam larutan air dan ZPT sebelum benih disemaikan.

Petani menggunakan ZPT semata-mata tidak untuk memacu pertumbuhan tanaman, melainkan untuk mencegah terjadinya gugur bunga dan buah, memperbaiki mutu buah, dan meningkatkan hasil buah. Dari beberapa penelitian dan pengalaman petani, penggunaan ZPT dapat meningkatkan hasil hingga 50%. Namun, peningkatan ini bukan hanya disebabkan oleh ZPT saja, melainkan juga karena pengaruh pemupukan.

Sebagaimana pupuk daun, pemakaian ZPT juga harus dilakukan dengan hati-hati. Jangan pernah sekali-kali melanggar aturan yang tertera pada label kemasan.

  1. Membuat sendiri pupuk daun organik dan hormon tanaman organic

Untuk menghemat biaya, pupuk daun dan hormon tanaman dapat dibuat sendiri. Bahan utamanya dapat menggunakan beberapa bahan organik yang terdapat di sekitar kita. Cara pembuatannya pun tergolong mudah dan praktis.

cabai

  1. Pupuk Daun Organik

Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk membuat pupuk daun organik di antaranya pupuk hijau atau kacang-kacangan, dedak, dan air dengan perbandingan masing-masing sebesar 1 : 1 : 1. Cara pembuatannya sebagai berikut :

  • Hasil pangkasan tanaman (pupuk hjau) dan dedak dicampur sampai merata, lalu dimasukkan ke dalam karung yang diberi lubang udara.
  • Kemudian campuran dimasukkan ke dalam drum dan rendam dengan air, lalu drum ditutup.
  • Setelah 45 hari, drum dibuka lalu air rendaman disaring.
  • Cairan hasil saringan merupakan pengganti pupuk daun sekaligus pupuk daun organik.
  1. Hormon Tanaman Organic

Berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Cara pembuatannya sebagai berikut.

  1. Ambil tunas air dari tanaman cabai.
  2. Siapkan 10 g gula pasir dan 20-30 g gula merah.
  3. Tunas air dirajang-rajang kecil.
  4. Taburkan gula di atas rajangan, lalu tutup dengan plastik dan letakkan di tempat yang sejuk;
  5. Setelah 5-7 hari, rajangan tersebut akan mengeluarkan cairan;
  6. Tambahkan air sampai seluruh rajangan terendam air.
  7. Biarkan sampai rajangan membusuk dan larut ke dalam air.Setelah benar-benar larut, saring air rendaman tersebut.
  8. Hasil saringan inilah yang berfungsi sebagai hormon atau perangsang pertumbuhan tanaman.