Inovasi Dalam Perjalanan Waktu, Green Super Rice

kementerian-pertanian-logoInovasi Dalam Perjalanan Waktu, Green Super Rice – Beras merupakan komoditi strategis di Indonesia yang menyangkut hajat hidup ratusan juta penduduknya, sehingga dapat dikatakan bahwa beras merupakan hajat hidup bangsa Indonesia.  Berkaitan dengan hal tersebut, berbagai upaya terus dilakukan untuk memastikan bahwa produksi beras cukup untuk konsumsi bangsa Indonesia tersebut.  Tidak ketinggalan pada era Kabinet Kerja dewasa ini, perberasan mendapat perhatian yang sangat besar.  Berbagai teknologi dikerahkan dan disinergikan untuk mencapai peningkatan produksi yang signifikan.  Pendekatan lintas sektoral diintegrasikan dan Inovasi teknologi dipacu untuk mendapatkan lonjakan prestasi di bidang perberasan ini.  Upaya intensifikasi dan ekstensifikasi secara masif dilakukan, dengan menyiapkan pula sarana dan prasarana yang diperlukan.  Bukan hanya swasembada yang ditargerkan, tetapi bahkan menjadi negara pengekspor beras pun telah dicanangkan.

Inovasi teknologi menjadi kata kunci dalam upaya tersebut di atas.   Menurut Las (2002), peran peningkatan produktivitas (teknologi) dalam peningkatan produksi padi mencapai 56,10%, perluasan areal 26,30%, dan 17,60% oleh interaksi antara keduanya. Sementara itu, peran varietas unggul bersama pupuk dan air terhadap peningkatan produktivitas mencapai 75%. Kajian tersebut menunjukkan bahwa VARIETAS UNGGUL merupakan komponen teknologi utama dalam peningkatan produksi padi di Indonesia.

Perjuangan untuk memperbaiki varietas padi, bahkan telah dimulai semenjak era kolonialisme Belanda di Indonesia.  Hal tersebut misalnya diawali dengan dirakitnya varietas Bengawan (1943).  Pada perkembangan selanjutnya, IRRI (International Rice Research Institute) yang berlokasi di Los Banos, Laguna, Philippines, berhasil merakit IR8 dan IR5 yang dilepas di Indonesia dengan nama PB8 (1967) dan PB5 (1968) yang berdaya hasil tinggi, lebih genjah dan berpostur tanaman yang tegak (semi dwarf).  Varietas tersebut merupakan pemicu awal revolusi hijau pada pertanaman padi di dunia, menyusul revolusi hijau pada tanaman gandum.

Pada tahun 1986 dilepas varietas IR64 di Iindonesia.  Varietas asal IRRI ini selanjutnya menjadi mega varietas, ditanam luas di kawasan Asia, termasuk Indonesia.  Saat ini pun, varietas IR64 masih ditanam petani di beberapa daerah, dan varietas IR64 ini juga merupakan asal atau tetua dari berbagai varietas populer di Indonesia, seperti Ciherang (2000), Mekongga (2004), Inpara 5 (2010), Inpari 30 Ciherang Sub 1 (2012), dan lain-lain.  Berbagai upaya perbaikan dan perakitan varietas-varietas baru terus dilakukan.

Perbaikan varietas tersebut, dalam perjalanan sejarahnya telah memberikan keuntungan sangat besar, terutama karena perbaikan pada karkater daya hasil, umur, dan ketahanan terhadap hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi.  Varietas unggul mampu meningkatkan potensi hasil dari sekitar 2 ton/ha pada varietas lokal menjadi sekitas 10 ton/ha pada varietas-varietas unggul terbaru.  Varietas unggul mampu mempersingkat pertumbuhan tanaman padi dari sekitar 6 bulan pada varietas lokal menjadi sekitar 105 hari dari biji ke biji pada varietas kotemporer yang ada, dengan tetap memiliki daya hasil yang tinggi.  Varietas unggul membuka peluang ditanamnya padi hingga 3 kali dalam setahun dengan hasil panen mendekati potensi hasil tersebut di atas.  Singkat kata, varietas unggul mampu melipat gandakan produksi padi dari suatu luasan lahan setiap tahunnya.

Namun, prestasi tersebut selalu berkejaran dengan besarnya peningkatan penduduk konsumen beras dengan segala tuntutannya.  Tantangan alam berupa cekaman biotik (hama, penyakit, gulma) dan abiotik (kekeringan, kegaraman, rendaman, naungan, suhu rendah, suhu tinggi, kahat atau keracunan hara, dan lain-lain) merupakan tantangan lain yang harus turut dijawab.  Peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia, meningkatkan pula tuntutan kualitas nasi yang dikonsumsi.  Beras pulen/lunak lebih banyak disukai umumnya penduduk Indonesia, meskipun di beberapa daerah sepertu Sumatera Barat dan Kalimantan justru terjadi sebaliknya.  Beras pera/keras justru lebih disukai.  Beras dengan antosianin tinggi, indeks glikemik rendah, nutrisi spesifik (vitamin A, kandungan Zn) tinggi, fisiologis spesifik misalkan indkes glikemik rendah dibutuhkan untuk tujuan kesehatan khusus.  Padi dengan budidaya yang sehat juga menjadi tuntutan dengan pertimbangan kesehatan dan keamanan lingkungan.  Beradunya kebutuhan dan tantangan tersebut merupakan seni tersendiri yang menarik untuk terus digeluti agar semaksimal mungkin manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan tantangan-tantangan tersebut, untuk kesejahteraan umat manusia secara berkelanjutan.

Green Super Rice

Salah satu paradigma teraktual dalam merakit varietas padi untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut di atas adalah dengan teknologi Green Super Rice (GSR).   Teknologi Green Super Rice memadukan keragaman genetik tanaman padi dari berbagai penjuru dunia, sehingga terjadi reaksi dan interaksi yang kompleks pada proses genetik di dalam internal tanaman, sehingga dapat muncul karakter-karakter daya hasil yang tinggi dengan asupan bahan kimia buatan yang relatif rendah.  Varietas yang dihasilkan dirancang untuk toleran terhadap cekaman abiotik, sehingga durable di lapang dan mampu berproduksi tinggi pada kondisi pemupukan yang tidak berlebih dan tetap relatif tinggi hasilnya jika menghadapi kondisi pemupukan yang terbatas pada taraf tertentu.  Varietas tersebut hendaknya pula tahan cekaman biotik sehingga membutuhkan insektisida yang lebih sedikit.  Kaidah-kaidah pengendalian hama terpandu dapat efektif diterapkan.

Upaya perakitan material genetik Green Super Rice ini diawali di IRRI pada tahun 1990-an dan dilanjutkan di China mulai tahun 2000-an.  Bill and Melinda Gates Foundation selanjutnya mendorong pengujian material Green Super Rice tersebut di Asia dan Afrika mulai tahun 2010-an.  Beberapa galur dari program tersebut telah dilepas sebagai varietas unggul baru di beberapa negara di Afrika dan Asia termasuk Indonesia.  Di  Indonesia, varietas tersebut adalah Inpari 42 Agritan GSR dan Inpari 43 Agritan GSR.  Kedua varietas tersebut dilepas tahun 2016 ini melalui SK Menteri Pertanian berturut-turut No. 372/Kpts/TP.010/6/2016 dan 369/Kpts/TP.010/6/2016.  Kedua varietas ini memiliki potensi hasil sekitar 10 ton/ha dengan ketahanan yang relatif baik terhadap blas dan HDB.  Penapilan kedua varietas memiliki kehasan antara lain daun bendera yang relatif panjang, besar dan tegak serta butiran biji padi yang tertata rapat dalam malainya. Kedua varietas tersebut telah diuji di lahan petani dengan hasil baik di beberapa daerah di Indonesia.  Varietas tersebut telah melalui dicoba sebagian petani di lahan sawah irigasi, tadah hujan, dan rawa di beberapa daerah.  Pengujian varietas-varietas tersebut di lokasi yang baru dianjurkan pada skala kecil untuk uji coba kesesuaian varietas tersebut pada kondisi spesifik setempat terlebih dahulu, dan dapat ditingkatkan luasannya sesuai dengan keyakinan kesesuaiannya di setiap daerah.

varietas Inpari 42 Agritan GSR dan Inpari 43 Agritan GSR

Diharapkan kedua varietas tersebut dapat memperkaya hasanah keragaman varietas yang eksis di lahan petani dan berkontribusi terhadap ketahanan dan kejayaan pangan nasional Indonesia.  Bersama-sama dengan varietas-varietas unggul yang lain sesuai dengan spesifikasi dan keunggulan masing-masing, diharapkan semakin lengkaplah ketersediaan varietas padi untuk menjawab berbagai kendala dan tantangan yang ada.

Harapan ke Depan

Revolusi hijau telah mengantarkan umat manusia pada kecukupan pangan hingga saat ini.  Namun tantangan semakin berat.  Ilmuwan dari berbagai belahan dunia tengah berupaya untuk mengintegrasikan inovasi lintas disiplin keilmuan dengan memanfaatkan semua teknologi tercanggih yang ada untuk memunculkan revoulusi hijau kedua.  Indonesia diharapkan tidak tertinggal dalam upaya tersebut.  Sumber daya manusia, sarana, pra sarana, sistem inovasi, networking, dan kolaborasi kerja perlu disiapkan dan diupayakan bersama.

Perbaikan berkelanjutan varietas-varietas yang telah dihasilkan tentu saja terus diperlukan agar tidak tertinggal dari tantangan-tantangan yang semakin berat, kompleks, dan beragam.  Kendala di lapangan bersifat kompleks terkait berbagai karakter, sehingga penggabungan berbagai keunggulan dalam suatu varietasdiperlukan.  Suatu daerah mengalami cekaman rendaman di awal musim tanam, namun menghadapi kekeringan ketika tanaman telah tumbuh memasuki fase generatif.  Di tempat lain terjadi intrusi air laut sehingga kegaraman tinggi, juga mengalami rendaman dan kekeringan secara berselang.  Di tempat itu pula, muncul berbagai penyakit.  Penyakit tersebut disebabkan olah patogen dengan varian yang sangat beragam dengan komposisi yang berbeda antar lokasi dan antar waktu sesuai dengan dinamika yang ada.  Pyramiding (penggabungan) berbagai keunggulan dengan variabilitas genetik yang besar menjadi kebutuhan untuk menjawab tantangan ke depan tersebut.

Diseminasi juga menjadi hal kunci.  Varietas yang telah dihasilkan akan mati tanpa diseminasi dan adopsi.  Sebaik apa pun varietas yang dihasilkan akan terhenti dan dilupakan jika pengenalannya kepada petani dan seluruh stake holders-nya tidak dilakukan dengan efektif.  Padahal ‘umur’ suatu varietas di lapangan tetap ada batasnya.  Penanaman suatu varietas populer secara terus menerus akan sampai pada suatu titik dimana ketahanannya akan patah terhadap hama/penyakit di daerah tersebut.  Pada kondisi demikian, perlindungan (dengan pestisida kimiawi) harus semakin intensif yang pada gilirannya menurunkan efisiensi usaha tani yang dilakukan dan dalam batas tertentu akan bersentuhan dengan isu kelestarian lingkungan dan kesehatan.  Pada kondisi seperti ini, introduksi varietas baru yang lebih adaptif terhadap dinamika lingkungan pertanian setempat menjadi kebutuhan untuk ‘segera’ dilakukan.  Pengenalan/diseminasi varietas-varietas tersebut pada setiap lini terdepan pertanian di Indonesia diharapkan dapat mengisi kebutuhan tersebut dengan tepat.

Varietas adalah teknologi yang relatif murah, efektif, dan lestari, bahkan dapat menjangkau daerah-daerah sangat terpencil, asalkan tersedia benih  sebagai media delivery teknologi tersebut.  Untuk itu, sistem perbenihan hendaknya diperkuat.  Uji coba varietas-varietas baru hendaknya didorong untuk dilakukan di sebanyak mungkin daerah-daerah di Indonesia.  Hal tersebut ditindak lanjuti dengan penyiapan penangkar yang akan mereproduksi varietas-varietas terbaik di daerahnya.  Sertifikasi benih dilakukan untuk menjaga agar mutu benih yang dihasilkan bisa terjamin, sehingga konsumen/petani terlindungi.  Kuatnya sistem perbenihan hingga ke daerah-daerah pelosok diharapkan dapat berkontribusi nyata bagi terjaganya tingkat produktivitas padi pada taraf yang diharapkan.

Demikianlah, peran serta semua pihak sangat diperlukan agar ketahanan pangan nasional dapat terus terjaga.  Teknologi berupa varietas unggul maupun teknologi yang lain seperti teknik budi daya tanaman, teknik pengelolaan hama/penyakit, mulai dari cara yang paling sederhana hingga yang paling canggih adalah salah satu komponen untuk meningkatkan produksi padi, namun teknologi tersebut memerlukan berbagai aktor agar dapat teraplikasikan di lahan petani untuk hasil yang terbaik. Inovasi teknologi berkelanjutan hingga aplikasinya secara spesifik di setiap lahan petani tersebut merupakan perjalanan panjang yang bahkan melibatkan seluruh komponen bangsa.  Sistem kenegaraan, peneliti, akademisi, penyuluh, pedagang, pihak swasta, petani sebagai pelaku, serta penduduk secara keseluruhan turut menentukan teknologi yang dipakai petani, termasuk jenis varietas yang digunakan, yang pada akhirnya menentukan tingkat hasil yang dapat diperoleh.

Peran semua pihak tersebut hendaknya dilandasi kesadaran bahwa tindakannya adalah merupakan bagian dari upaya manusia yang bukan hanya untuk sekedar survive, tetapi juga untuk hidup lebih sejahtera dan berperan bagi manusia yang lain serta lingkungan hidupnya.

Untung Susanto, Peneliti Pemuliaan Padi di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementrian Pertanian Republik Indonesia.

Gambar keragaan individual varietas Inpari 42 Agritan GSR dan Inpari 43 Agritan GSR, serta malai Inpari 43 Agritan GSR

Tabel Deskripsi Varietas Inpari 42 Agritan GSR dan Inpari 43 Agritan GSR

Karakter Inpari 42 Agritan GSR Inpari 43 Agritan GSR
Nama Galur : Huanghuazhan Zhongzhu14
Asalpersilangan : Huangxinzhan/Fenghuazhan WuFengZhan/IRBB5//WuFengZhan
Golongan : Indica (Cere) Indica (Cere)
Umur berbunga : ± 85 hari ± 80 hari
Umur masak fisiologis : ± 112 hari ± 111 hari
Bentuk tanaman : Tegak Tegak
Tinggi tanaman : ± 93 cm ± 88 cm
Jumlah gabah isi per malai : ± 123 butir ± 108 butir
Anakan produktif : ± 18  batang ±21  batang
Warna kaki : Hijau Hijau
Warna batang : Hijau Hijau
Warna telinga daun : Tidak berwarna Tidak berwarna
Warna lidah daun : Tidak berwarna Tidak berwarna
Warna helai daun : Hijau Hijau
Muka daun : Kasar Kasar
Posisi daun : Tegak Tegak
Daun Bendera : Tegak Tegak
Bentuk Gabah : Ramping Medium
Kerontokan : Medium Medium
Kerebahan : Tahan Tahan
Potensi hasil : 10,58 t/ha 9,02 t/ha
Rata-rata hasil : 7.11 t/ha 6,96 t/ha
Bobot 1000 butir : ± 24,41 gram ± 23,74 gram
Tekstur nasi : Pulen Pulen
Rendemen beras pecah kulit : 77,12 % 77,58 %
Kadar amilosa : 18,84% 18,99%
Ketahanan terhadap penyakit : Pada fase generatif agak Tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III, rentan strain IV, dan Agak Rentan strain VIII, tahan terhadap penyakit blas daun ras 073, agak tahan terhadap ras 033 dan rentan terhadap ras 133 dan 173 Pada fase generatif Tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III, agak tahan terhadap HDB patotipe IV dan VIII, tahan terhadap blas daun ras 073, 0133, agak tahan ras 033 dan rentan ras 173
Ketahanan terhadap hama : Agak Tahan terhadap hama wereng batang coklat biotipe 1 dan Agak Rentan terhadap biotipe 2 dan 3, rentan terhadap virus tungro varian 033 dan 073 Agak rentan terhadap wereng batang coklat biotipe 1, 2, dan 3
Keterangan:
–     Anjuran tanam : Lahan sawah dengan ketinggian 0 – 600 m. Lahan sawah subur dan kurang subur ketinggian 0 – 600 m diatas permukaan laut, termasuk sawah daerah endemik HDB dan blast
Pengusul : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

SUMBER : LITBANG PERTANIAN INDONESIA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s