Petani Generasi Terakhir

Petani Generasi Terakhir – Pertumbuhan ekonomi di kota-kota besar semakin maju. Hal ini menarik perhatian banyak generasi produktif untuk berbondong-bondong mencari pekerjaan di kota. Upah yang menjanjikan, kerja di perkantoran, memakai baju rapi, jadi daya tarik. Arus urbanisasi pun tak terhindarkan. Tak hanya yang bergelar sarjana, di daerah pun para generasi produktif lebih memilih bekerja sebagai buruh pabrik dan karyawan.

Indonesia dikenal sebagai Negara agraris, yang mayoritas penduduknya hidup dari bercocok tanam dan sebagian besar adalah petani. Melihat tingginya ubanisasi, profesi sebagai pertani kian ditinggalkan generasi muda. Sarjana pertanian pun lebih banyak bekerja di sektor non-pertanian seperti sosial, jasa, dan pendidikan.

Melihat kondisi saat ini, bisa ditarik hipotesis bahwa petani hari ini adalah petani generasi terakhir. Para orang tua di desa yang berprofesi sebagai petani hari ini, hampir tidak ada generasi penerusnya sebagai petani. Anak-anaknya yang lulusan sarjana jelas mereka melamar pekerjaan di perusahaan dan perkantoran. Sedangkan yang lulusan sekolah menengah keatas pun mereka lebih memilih sebagai buruh pabrik atau karyawan.

Dari sensus pertanian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013, diketahui jumlah rumah tangga petani mengalami penurunan tajam dalam 10 tahun. Dari semula 31 juta rumah tangga petani di tahun 2003, menjadi 26 juta rumah tangga saja di tahun 2013. Artinya indonesia kehilangan 500.000 rumah tangga petani per tahun atau 5 juta rumah tangga selama 10 tahun.

Petani Generasi Terakhir
Petani Generasi Terakhir

Hal itu (buruh pabrik dan karyawan) menjadi banyak dipilih generasi produktif karena jam kerja yang jelas dan upah yang pasti setiap bulan mereka dapatkan. Sedangkan bertani, harus menunggu tiga hingga empat bulan untuk bisa panen. Belum lagi proses yang lama dan cukup melelahkan. Membajak sawah di bawah terik matahari, menanam satu persatu benih padi, berkutat dengan lumpur, menjaga agar tanaman padi terhindar dari hama, hingga proses memanen padi menjadi beras.

Masa depan pertanian Indonesia kian terancam dengan semakin berkurangnya minat generasi muda untuk terjun di bidang pertanian. Para petani generasi terakhir yang masih berjuang pun terancam kehilangan lahan garapan. Semakin maraknya pembangunan industri dan perumahan sedikit demi sedikit merenggut kedaulatan para petani. Kurangnya lahan pertanian berimbas pada hilangnya profesi petani.

Terancamnya Kedaulatan Pangan Negeri
Terancamnya Kedaulatan Pangan Negeri

Globalisasi memang membawa dampak hilangnya jati diri seseorang, bahkan suatu bangsa. Para generasi muda hari ini lebih memilih menjadi kuli dibandingkan petani. Berkurangnya generasi petani, maka kebutuhan pangan akan di impor dari luar negeri. Negara bahkan desa yang dulunya sebagai eksportir beras berbalik menjadi importir. Hal itu tak dapat dipungkiri, sebab itu memang salah satu bukti perkembangan jaman.

 

Sumber : Info Pena

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s