Anomali Cuaca, Dampak Dan Pengaruhnya Bagi Sektor Pertanian

(Gapoktan Sekarsari) Anomali Cuaca, Dampak Dan Pengaruhnya Bagi Sektor Pertanian – Peran sektor pertanian sangat penting terhadap perekonomian di Indonesia terutama terhadap pertumbuhan nasional dan sebagai penyedia lapangan pekerjaan. Sebagai negara agraris, Namun, kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan perekonomian semakin menurun. Salah satu komoditas pertanian yaitu komoditas perkebunan yang mempunyai potensi untuk dikembangkan baik produksi dalam negeri maupun ekspornya. Perkebunan merupakan penghasil komoditi ekspor di Negara Indonesia setelah sub sektor pertambangan minyak dan gas serta kehutanan. Hal ini didukung oleh kecocokan iklim, curah hujan, dan dan struktur tanah wilayah Indonesia terhadap tanaman perkebunan seperti tanaman kakao.

pengaruh-iklim-pada-pertanian

Perubahan iklim global disebabkan antara lain oleh peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) akibat berbagai aktivitas yang mendorong peningkatan suhu bumi. Mengingat iklim adalah salah satu unsur utama dalam sistem metabolisme dan fisiologi tanaman, maka perubahan iklim global mempunyai dampak yang buruk terhadap keberlanjutan pembangunan pertanian. Perubahan iklim global akan mempengaruhi setidaknya tiga unsur iklim dan komponen alam yang sangat erat kaitannya dengan pertanian, yaitu naiknya suhu udara yang juga berdampak terhadap unsur iklim lain, terutama kelembapan dan dinamika atmosfer, berubahnya pola curah hujan dan makin meningkatnya intensitas kejadian iklim ekstrim (anomali iklim) seperti El-Nino dan La-Nina, dan naiknya permukaan air laut akibat pencairan gunung es di kutub utara (Las, 2007). Terjadinya perubahan iklim akan berdampak pada pergeseran musim, yakni semakin singkatnya musim hujan namun dengan curah hujan yang lebih besar. Selain itu, kerusakan pertanian yang terjadi karena intensitas curah hujan yang tinggi berdampak pada banjir, tanah longsor dan angin. Fluktuasi suhu dan kelembapan udara yang semakin meningkat mampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme pengganggu tanaman. Petani perlu menambah penggunaan pupuk, dan pestisida, baik pestisida organik/hayati, pestisida nabati, maupun pestisida kimiawi untuk mengatasi tanaman yang terserang hama dan penyakit.

Rentannya sektor pertanian terhadap perubahan iklim

Sektor pertanian merupakan sektor yang rentan terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim diduga akan mempengaruhi kondisi lingkungan. Terbatasnya informasi yang diperoleh petani menyebabkan persepsi tentang terjadinya perubahan iklim diantara petani perkebunan menjadi berbeda, sehingga tindakan yang dilakukan juga berbeda yang menyebabkan timbulnya berbagai macam dampak negatif terhadap tanaman yang dibudidayakan dan mengalami penurunan produktivitas. Penggunaan pupuk dan pemilihan tindakan pengendalian terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT) dapat mempengaruhi produktivitas tanaman yang dibudidayakan. Penggunaan pupuk yang baik akan membantu tanaman terhindar dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama penggunaan pupuk organik dapat membantu mengembalikan kesuburan tanah. Penggunaan pestisida baik pestisida organik, nabati, maupun kimiawi sangat diperlukan dalam tindakan pengendalian. Perawatan tanaman dalam menghadapi perubahan iklim harus dilakukan, seperti pemangkasan pada tanaman kakao harus dilakukan menjelang musim penghujan, karena pada musim penghujan banyak penyakit yang menyerang tanaman tersebut contohnya jamur Phytophthora palmivora yang menyebabkan penyakit busuk buah dan kanker batang.

Salah satu akibat dari perubahan iklim, adalah adanya curah hujan yang tinggi. Akibat dari adanya curah hujan yang tinggi yaitu munculnya berbagai penyakit pada tanaman budidaya, tidak terkecuali pada tanaman perkebunan seperti penyakit busuk buah pada tanaman kakao. Hal ini jelas akan berpengaruh terhadap tingkat produktivitas tanaman yang kita budidayakan. Faktor-faktor iklim yang terpenting adalah jumlah dan pembagian dari sinar matahari dan curah hujan, temperatur, kelembapan, dan angin. Contohnya pada tanaman kakao, terjadinya busuk buah kakao diakibatkan karena kelembapan dan curah hujan yang tinggi. Serangan penggerek buah kakao yang tinggi diakibatkan karena rendahnya sinar matahari yang masuk pada pertanaman kakao. Pada saat tanaman kakao masih kecil atau baru ditanaman diperlukan tanaman pelindung, namun seiring dengan pertumbuhannya maka tanaman pelindung dikurangi. Hal ini dilakukan agar sinar matahari dapat masuk kedalam pertanaman untuk menghindari kelembapan yang tinggi pada lahan perkebunan. Perubahan iklim menyebabkan perubahan tingkat produksi dan berimplikasi terhadap perubahan pendapatan petani pembudidaya tanaman perkebunan. Adanya penurunan produktivitas pada tanaman perkebunan seperti pada tanaman kakao, cengkih atau pala menyebabkan turunnya penghasilan petani. Selain itu dapat mempengaruhi pendapatan negara, mengingat komoditas perkebunan merupakan komoditas ekspor penyumbang devisa negara.

Ketika Realita Nampak Di Depan Mata!!! Siapa Yang Salah?
Ketika Realita Nampak Di Depan Mata!!! Siapa Yang Salah?

Pengertian Perubahan Iklim

Perubahan iklim adalah berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan manusia. Perubahan fisik ini tidak terjadi hanya sesaat tetapi dalam kurun waktu yang panjang. Perubahan iklim adalah perubahan rata-rata salah satu atau lebih elemen cuaca pada suatu daerah tertentu. Istilah perubahan iklim skala global adalah perubahan iklim dengan acuan wilayah bumi secara keseluruhan. IPCC (2007) menyatakan bahwa perubahan iklim merujuk pada variasi rata-rata kondisi iklim suatu tempat atau pada variabilitasnya yang nyata secara statistik untuk jangka waktu yang panjang (biasanya dekade atau lebih). Pemanasan global terjadi akibat dari peningkatan efek rumah kaca yang disebabkan oleh naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Semakin tinggi konsentrasi gas rumah kaca, maka semakin banyak radiasi panas dari bumi yang terperangkap di atmosfer dan dipancarkan kembali ke bumi. Hal tersebut dapat terjadi melalui proses internal maupun ada kekuatan eksternal, atau ulah manusia yang terus menerus merubah komposisi atmosfer dan tata guna lahan. Hal ini menyebabkan peningkatan suhu di permukaan bumi. Peningkatan suhu iklim juga bisa dikarenakan peningkatan radiasi matahari, namun pengaruhnya relatif sangat kecil. Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi sebagai akibat meningkatnya jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer. Perubahan iklim global sebagai peristiwa naiknya intensitas efek rumah kaca yang terjadi karena adanya gas dalam atmosfer yang menyerap sinar panas yaitu sinar infra merah yang dipancarkan oleh bumi (Budianto, 2001). El Nino dan La Nina merupakan gejala yang menunjukkan perubahan iklim. El Nino adalah peristiwa memanasnya suhu air permukaan laut, yang menyebabkan terjadinya musim kemarau panjang. La Nina merupakan kebalikan dari El Nino. La Nina adalah kondisi cuaca yang normal kembali setelah terjadinya gejala El Nino. La Nina mengakibatkan angin membawa banyak uap air, sehingga sering terjadi hujan lebat dan kemungkinan terjadinya banjir sangat besar (Budianto, 2001).

Dampak Perubahan Iklim di Bidang Pertanian

Dampak perubahan iklim mempengaruhi beberapa sektor ekonomimasyarakat, seperti pertanian, peternakan, perikanan, dan kurangnya cadangan air.Terlambatnya musim hujan dan naiknya intensitas hujan, membawa kerugiancukup besar bagi masyarakat. Salah satu sektor yang paling terpengaruh denganperubahan iklim adalah sektor pertanian. Pertama, perubahan iklim akanberdampak pada pergeseran musim, yakni semakin singkatnya musim hujannamun dengan curah hujan yang lebih besar. Kerusakan pertanaman terjadi karena intensitas curahhujan yang tinggi yang berdampak pada banjir dan tanah longsor serta angin.Kedua, fluktuasi suhu dan kelembapan udara yang semakin meningkat yangmampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme pengganggutanaman (OPT). Ketiga, menurunnya kesejahteraan ekonomi petani. Dua hal diatas jelasmerugikan petani dan sektor pertanian karena akan semakin menyusutkan danmenurunkan hasil pertanian yang berpengaruh pada menurunnya pendapatan petani.Sebab perekonomian petani bergantung pada keberhasilan panen, jika terjadikegagalan panen, maka petani akan mengalami kerugian.

Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Tanaman

Meningkatnya siklus anomali musim kering, musim hujan dan berkurangnya kelembapan tanah akan mengganggu sektor pertanian. Kecenderungan yang akan terjadi adalah musim kemarau lebih panjang, sehingga menyebabkan tanaman menjadi kering, layu dan akhirnya mati. Dampak yang ditimbulkan karena perubahan iklim yaitu peningkatan CO2 di udara meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil panen. Hubungan ini terjadi karena CO2 dan udara diperlukan untuk tumbuhan dalam proses fotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat. Semakin bertambah CO2 maka semakin banyak karbohidrat yang diproduksi; peningkatan suhu akan menurunkan hasil panen. Hal ini terjadi karena proses fotosintesis yang berlangsung memiliki batasan temperatur. Jika temperatur berada diatas batas, maka fotosintesis berhenti; peningkatan curah hujan akan meningkatkan hasil panen. Hubungan ini terjadi karena dalam proses fotosintesis tanaman membutuhkan air, curah hujan yang tinggi akan menambah persediaan air bagi tanaman; peningkatan variasi cuaca dan kondisi cuaca yang ekstrim akan menurunkan hasil panen. Hubungan ini terjadi karena tanaman yang ditanam akan rusak jika terjadi variasi cuaca dan kondisi cuaca yang ekstrim. Perpaduan antara meningkatnya suhu rata-rata, siklus hidrologi yang terganggu sehingga menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan musim hujan yang lebih intensif namun lebih pendek.

Dampak perubahan iklim pada tanaman perkebunan terlihat jelas dipertanaman kakao. Tanaman kakao sangat rentan terhadap kekeringan yang panjang (lebih dari 3 bulan). Apabila ketersediaan air tidak memadai untuk penyiraman pada pembibitan akan mengakibatkan bibit dan kecambah mati karena sangat peka terhadap kondisi media tumbuh yang kurang lembap. Tanaman kakao muda sangat rentan terhadap kekeringan, daun menjadi kuning yang diikuti dengan kerontokan dan cabang-cabangnya mengering, pada kasus yang parah dapat mengakibatkan kematian tanaman.

Salah Satu Dampak Perubahan Iklim Bagi Pertanian
Salah Satu Dampak Perubahan Iklim Bagi Pertanian

Pada tanaman menghasilkan, penurunan produksi terjadi pada tahun berlangsungnya kekeringan dan berlanjut ke tahun berikutnya. Kondisi tersebut akan lebih parah pada daerah yang lebih kering dimana penurunan produksi dapat mencapai 40%, pada daerah yang lebih basah turun antara 20-26% tergantung pada panjang pendeknya kemarau dan curah hujan tahun berikutnya. Penurunan drastis terjadi satu tahun setelah kekeringan panjang, karena setelah kekeringan tanaman memerlukan energi tinggi untuk pemulihan sehingga partisi asimilat kearah proses pembentukan bunga lebih rendah. Disamping itu, kemarau panjang akan menekan musuh alami serangga hama, sehingga populasi hama seperti ulat kilan, Hyposidra sp. dan Zeuzera sp. akan meningkat yang mengakibatkan kerusakan tanaman produksi.

Strategi dalam menanggulangi perubahan iklim

Antisipasi

Antisipasi dilakukan untuk menyiapkan tindakan mitigasi dan adaptasi berdasarkan kajian dari dampak perubahan iklim terhadap :

a)  Sumberdaya pertanian seperti pola curah hujan dan musim, sistem hidrologi dan sumberdaya air,

b)  Sarana dan prasarana pertanian, terutama sistem irigasi, dan waduk,

c)  Sistem usahatani dan agribisnis, pola tanam, produktivitas, pergeseran jenis dan varietas dominan.

Mitigasi

Indonesia selain sebagai penyumbang terbesar oksigen (O2) dari hutan dan areal pertaniannya, Indonesia juga dituding sebagai negara penyumbang emisi Gas Rumah Kaca (GRK), terutama dari sistem pertanian lahan sawah dan rawa, kebakaran hutan/lahan, emisi dari lahan gambut. Oleh sebab itu, Indonesia dituntut (sesuai dengan Kiyoto Protocol) untuk senantiasa berupaya mengurangi (mitigasi) GRK, antara lain melalui; (a) CDM (Clean Development Mechanism), (b) perdagangan karbon (carbon trading) melalui pengembangan teknologi budidaya yang mampu menekan emisi GRK, dan (c) penerapan teknologi budidaya seperti penanaman varietas dan pengelolaan lahan dan air dengan tingkat emisi GRK yang lebih rendah (Sinar Tani, 2010).

Adaptasi

Yang dimaksud dengan adaptasi disini adalah mengembangkan berbagai upaya yang adaptif dengan keadaan yang terjadi akibat dampak perubahan iklim terhadap sumberdaya, sarana prasarana dan lain lain melalui (a) reinventarisasi dan redelineasi potensi dan karakterisasi sumberdaya lahan dan air, (b) penyesuaian dan pengembangan sarana prasarana pertanian, terutama irigasi sesuai dengan perubahan sistem hidrologi dan potensi sumberdaya air, (c) penyesuaian sistem usahatani dan agribisnis, terutama pola tanam, jenis tanaman dan varietas, dan sistem pengolahan tanah (Las, 2007). Proses adaptasi merupakan rangkaian usaha manusia untuk menyesuaiakan diri atau memberi respon terhadap perubahan lingkungan fisik maupun sosial yang terjadi pada waktu tertentu. Perubahan lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap adaptasi manusia adalah perubahan lingkungan yang berupa bencana, yaitu kejadian yang mengancam kelangsungan hidup organisme termasuk manusia, sehingga dalam menghadapi perubahan-perubahan lingkungan akibat bencana tersebut, manusia mengembangkan pola adaptasi yang berbentuk pola tingkah laku yang mengikuti perubahan iklim.

Gambar Efek Rumah Kaca
Efek Rumah Kaca

Perubahan iklim dengan segala penyebabnya telah terjadi ditingkat lokal, regional maupun global. Peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) menyebabkan terjadi pemanasan global diikuti dengan meningkatnya permukaan air laut akibat pencairan es di wilayah kutub. Naiknya permukaan air laut akan menyebabkan meningkatnya energi yang terjadi dalam atmosfer, sehingga mendorong terjadinya perubahan iklim. Perubahan iklim yang terjadi telah memberikan dampak yang signifikan diberbagai sektor, terutama di sektor pertanian. Dampak akibat terjadinya perubahan iklim antar lain curah hujan yang tinggi dan musim kemarau yang panjang. Untuk itu, diperlukan sosialisasi mengenai perubahan iklim kepada seluruh lapisan masyarakat khususnya petani, baik secara langsung dan tidak langsung serta perlu diberikannya solusi untuk menanggulangi kerugian yang dirasakan petani akibat adanya perubahan iklim, salah satunya yaitu dengan diadakannya Sekolah Lapang Perubahan Iklim (SL-Iklim). Pemerintah bersama pihak-pihak yang terkait harus membantu petani dalam menyediakan/memperbaiki sarana dan prasarana, seperti benih/bibit tanaman yang dapat bertahan pada kondisi kekurangan air, pembangunan dan perbaikan bendungan serta irigasi.

Source : Ditjen Pertanian Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s