Sumber Inokulum Serta Vector Pembawa Penyakit Tungro

Hama Wereng Hijau sebagai vektor penyakit tungro
Wereng Hijau Sebagai Vektor Penyakit Tungro

Kejadian penyakit tungro di suatu daerah/wilayah tidak serta merta terjadi secara tiba-tiba, kejadian penyakit tungro biasanya terjadi dikarenakan adanya faktor pendukung kejadian penyakit tungro di suatu wilayah.

Keberadaan penyakit tungro pada tanaman padi tidak terlepas dari adanya sumber inokulum serta vector pembawa penyakit tungro yaitu wereng hijau, kondisi lapangan menunjang perkembangan kedua faktor tersebut dapat menyebabkan penyebaran penyakit tungro. Kondisi lingkungan seperti penggunaan varietas yang rentan wereng hijau atau rentan tungro, tersedianya tanaman padi yang terus menerus, demikian juga faktor iklim seperti curah hujan dan kecepatan angin akan mempercepat penyebaran peyakit tungro.

Inokulum penyakit tungro dapat berasal singgang atau rumput inang yang sakit, selain itu keberadaan gulma di pertanaman / pematang dapat menjadi inang alternative virus tungro. Perpindahan virus ketanaman inang dapat dilakukan dengan serangga vector secara semi persisten. Wereng hijau dan wereng loreng merupakan vector utama virus penyebab penyakit tungro. Di antara spesies wereng hijau dan wereng loreng terdapat perbedaan efisiensi menularkan virus. Rentang efisiensi penularan virus oleh populasi N. virescens antara 35 % -83%, sedangkan oleh N. nigropictus antara 0-27%. Spesies wereng hijau lainnya seperti N. malayanus dan N. parvus memiliki kemampuan menularkan virus berturut-turut 40% dan 7%.

Rice Tungro Virus terdiri dari virus berbentuk Batang (RTBV) dan berbentuk Spiral (RTSV) tidak berkembang pada tubuh wereng hijau, virus tersebut tidak menular pada telur dari vector  virus dan hilang pada saat vector ganti kulit. Virus hanya tinggal sementara pada vektor. Wereng hijau yang telah mendapatkan virus segera dapat menularkan virus secara terus menerus.

Penyakit tungro tidak dapat ditularkan melalui biji atau pun secara mekanik, tetapi harus ada serangga penular (vektor) yaitu wereng hijau (Nephotettixspp.) atau wereng loreng (Reciliadorsalis). Sifat penularan virus oleh vektornya bersifat semi persisten artinya periode akuisisi minimum 5-30 menit dan periode inokulasi minimum 7-30 menit. Masa inkubasi virus pada tanaman 6-10 hari, virus dapat ditularkan melalui semua stadia serangga, yaitu nimfa dan imagonya, jantan dan betina, tapi tidak melalui telur. Virus tidak menular melalui tanah, air atau biji padi.

Hama Wereng Hijau
Hama Wereng Hijau

Tidak ada periode laten yang jelas, sehingga serangga dapat menularkan virus segera setelah menghisap tanaman sakit. Secara bertahap serangga akan kehilangan infektivitasnya, sehingga 50% dari serangga menjadi tidak infektif 24 jam setelah waktu akuisisi. Retensi virus dalam tubuh serangga berkisar dari 3-6 hari. Virus tidak diturunkan melalui telur, jadi nimfa dari wereng yang infektif tidak menjadi infektif, demikian juga pergantian kulit menyebabkan hilangnya keefektifan dari wereng tersebut  (tidak transtadial). Diantara beberapa jenis wereng hijau dan wereng loreng, N. virescens merupakan serangga yang paling efektif sebagai vektor. Oleh karena itu menyebarnya virus tungro ini sangat bergantung kepada besarnya populasi, jenis wereng hijau dan stadia vector itu sendiri.

Jarak penyebaran oleh wereng hijau dari sumber inokulum diperkirakan sejauh  250 meter tetapi bila ada angin maka penyebaran tersebut menjadi lebih luas lagi.

Source : Litbang Pertanian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s