Pengelolaan Lahan Kering secara Intensif dan Bijaksana

Potensi lahan kering untuk pengembangan tanaman pangan khususnya padi gogo masih cukup besar. Lahan kering dengan ketinggian < 700 m dpl tercatat ada 52,83 juta ha, tetapi yang potensial untuk pengembangan tanaman pangan hanya 5,1 juta ha. Budidaya tanaman pangan termasuk padi gogo disarankan pada kemiringan dibawah 15 % dan diperlukan tindakan konservasi tanah yang memadai.

Sehubungan dengan banyaknya lahan sawah irigasi subur yang beralih fungsi untuk kepentingan non pertanian dan penduduk terus bertambah, maka potensi lahan kering harus secepatnya dikembangkan untuk budidaya tanaman pangan khususnya padi gogo guna memenuhi kebutuhan pangan dimasa depan.

Pertanaman padi gogo di Indonesia ditemukan pada berbagai ketinggian dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Secara umum dapat dibagi menjadi 3 sub ekosistem, yaitu pada daerah datar dipekarangan rumah sampai bantaran sungai, pada kawasan perbukitan daerah aliran sungai (DAS), dan sebagai tanaman tumpangsari tanaman perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI) muda.

Lahan Kering Pertanian
Lahan Kering Pertanian

Tingkat produksi yang cukup stabil adalah pada daerah datar dan bantaran sungai, sedangkan untuk daerah perbukitan perlu didahului oleh tindakan konservasi tanah yang memadai. Khusus untuk padi gogo sebagai pertanaman tumpangsari tanaman perkebunan dan HTI muda, usahatani padi gogo terbatas sampai naungan tanaman pokok mencapai 50 %. Tetapi karena secara reguler tanaman perkebunan dan HTI ada peremajaan, maka potensi pertanaman padi gogo sebagai tanaman tumpangsari juga cukup besar.

Padi gogo sebagai tanaman tumpangsari perkebunan karet dan kelapa sawit muda dapat diusahakan sampai tahun ketiga dan keempat tergantung populasi tanaman pokoknya. Untuk tanaman kehutanan seperti jati dan Acasia mangium, pada program pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM), karena jarak tanam antar barisan diperjarang, maka pertanaman padi gogo masih dapat diusahakan sampai tahun kelima.

Budidaya padi gogo memerlukan curah hujan diatas 200 mm/bulan yang berlangsung secara berurutan minimal selama 4 bulan. Kondisi yang paling sensitif kekurangan air yang akan menentukan tingkat produktivitasnya adalah pada pase anakan aktif, primordia bunga sampai pengisian gabah.

Oleh karena itu budidaya padi gogo sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, dan dapat diikuti oleh tanaman palawija yang lebih tahan kekeringan pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau. Bila pola curah hujan diatas 100 mm/bulan cukup panjang, maka peluang penerapan pola tanam berbasis padi gogo juga akan panjang.

Kondisi iklim Indonesia dengan lama periode tanam (100 mm < CH >200 mm) lebih dari 10 bulan mencapai 75 %, maka secara teori dapat diusahakan 2 sampai 3 kali pertanaman setahun. Berdasarkan hasil penelitian, pola tanam berbasis padi gogo yang dilakukan secara intensif produksi setara gabah dapat mencapai lebih dari 20 t/ha/tahun. Dengan demikian pengelolaan lahan kering secara intensif dan bijaksana produksinya tidak kalah dengan lahan sawah irigasi.

Pola pengembangan padi gogo sebaiknya mengacu pada pendekatan model pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT). Pendekatan model PTT padi gogo didahului oleh survei potensi dan kendala yang ada dan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan petani secara aktif dan dipandu oleh penyuluh, aparat terkait dan peneliti.

Setelah permasalahan lapangan dikumpulkan dan kebiasaan petani dievaluasi secara mendalam, maka disusun paket teknologi apa yang akan diterapkan sebagai paket utama demontrasi dalam sekala luas.

Source : Balitbang Pertanian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s